Memaknai Pentingnya Pelajaran IPS di Sekolah

Manusia adalah makhluk sosial yang berusaha untuk hidup berdampingan baik dengan manusia yang lain maupun alam. Oleh karena itu, interaksi antara individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan individu, akan terus terjadi. Hal ini menjadi salah satu faktor pendorong bagi manusia untuk mengembangkan keterampilan bersosialisasi dan hidup dalam suatu komunitas. Meskipun begitu, konflik seringkali terjadi pada interaksi pada suatu komunitas atau kelompok masyarakat yang diakibatkan oleh beberapa hal. Dalam kondisi ini, manusia perlu memahami tentang pentingnya menjaga kerukunan dan menyelesaikan suatu masalah disintegrasi yang terjadi masyarakat. Hal inilah yang mendorong manusia untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu sosial.

Ilmu sosial tidak hanya mempelajari tentang apa yang terjadi pada interaksi manusia dengan manusia saja akan tetapi juga interaksi manusia dengan alam. Seperti yang telah diketahui, manusia merupakan salah satu makhluk yang sangat bergantung dengan keadaan alam di sekitarnya. Oleh karena itu, kelompok masyarakat perlu memahami tentang bagaimana interaksi antara manusia dengan alam serta bagaimana menjaga alam. Hal ini juga dibahas dalam ilmu sosial. Selain itu, ilmu sosial juga membahas tentang sistem perekonomian yang digunakan oleh setiap kelompok masyarakat. Kondisi masyarakat yang beragam dan didukung dengan keadaan alam yang berbeda tentu membuat masyarakat memiliki sistem ekonomi yang berbeda pula. Ilmu sosial juga membahas bagaimana kehidupan masyarakat berlangsung dari waktu ke waktu serta peristiwa apa saja yang mengubah tatanan dunia. Semua hal tersebut dipelajari dalam ilmu sosial.

Bagaimana Pembelajaran IPS di Sekolah

Ilmu sosial yang mempelajari tentang humaniora, alam, sistem ekonomi, dan peristiwa sejarah telah diajarkan di semua jenjang pendidikan di Indonesia. Ilmu sosial tersebut dikenal dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Meskipun pada awal kemerdekaan, IPS belum menjadi salah satu disiplin ilmu yang diajarkan di sekolah. Mapel IPS baru masuk dalam kerangka kurikulum di Indonesia sejak tahun 1970-an. Hal ini terjadi ketika adanya pembaharuan dalam kurikulum Indonesia untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang lebih baik. Dalam perkembangannya IPS dibagi menjadi beberapa mapel yaitu Sosiologi, Ekonomi, Geografi, dan Sejarah. Lantas, seberapa pentingnya penerapan pembelajaran IPS di lingkungan sekolah?

Pembelajaran IPS dianggap penting untuk diberikan karena berkaitan dengan interaksi manusia dengan lingkungan sekitar. Pembelajaran IPS diharapkan dapat membuat siswa menjadi lebih peka terhadap keadaan di lingkungan sekitarnya. Selain itu, para siswa juga diharapkan bisa menempatkan dirinya baik sebagai anggota kelompok masyarakat dan individu yang tinggal di alam. Sehingga, para siswa mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dan hidup berdampingan. Pembelajaran IPS juga memungkinkan para siswa untuk bisa terampil dalam menyelesaikan konflik yang mungkin muncul dalam kehidupan sosial baik yang menimpa dirinya sendiri maupun orang lain.

Pembelajaran IPS juga membekali para siswa untuk lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi fenomena atau peristiwa yang terjadi di masyarakat baik masa lampau maupun sekarang. Mereka juga bisa memilah informasi yang beredar di masyarakat dengan lebih baik. Pembelajaran IPS juga membuat para siswa bisa melakukan aktivitas ekonomi dengan lebih baik serta memperhitungkan bagaimana peluang untung rugi sebelum membuat keputusan dalam bidang ekonomi. Beberapa hal tersebut menjadi poin pentingnya pembelajaran IPS untuk diterapkan di sekolah. Pembelajaran IPS diberikan mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT). Semakin tinggi jenjang pendidikan, maka materi pembelajaran IPS yang diterapkan juga akan semakin kompleks dan terperinci. Hal ini harus disiasati oleh guru IPS untuk mengemas pembelajaran IPS menjadi salah satu mapel yang menarik untuk dipelajari.

Pembelajaran IPS yang diterapkan di sekolah memiliki tiga tradisi dalam studi ilmu sosial. Hal ini diungkapkan oleh Robert Bart, Samuel J. Shermis, dan James Barth. Tiga tradisi tersebut adalah IPS sebagai transmisi kewarganegaraan, IPS sebagai ilmu sosial dan IPS sebagai penelitian mendalam. Ketiga tradisi tersebut membuat implementasi pembelajaran IPS di sekolah menjadi lebih luas. Hal ini juga membuat guru menjadi lebih leluasa untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai sehingga IPS dapat diterima oleh para siswa dengan lebih mudah.

Ada beberapa strategi pembelajaran IPS yang bisa dipilih oleh para guru ketika mereka mengajarkan materi IPS. Strategi pembelajaran tersebut adalah Strategi Sinektik (Synectics), Strategi Sosiodrama, Strategi Studi Ekskursi Perjalanan, dan Strategi Inkuiri Sosial. Strategi Sinektik atau (Synectics) adalah sebuah strategi yang dicetuskan oleh W.J.J. Gordon. Seorang guru yang menerapkan strategi sinektik harus membuat sebuah analogi dan metafora agar para siswa terbantu dalam menganalisis masalah yang terjadi. Selain itu, strategi sinektik juga memungkinkan para siswa untuk bisa melihat suatu masalah atau fenomena dari berbagai sudut pandang. Untuk bisa menggunakan strategi sinektik, setidaknya ada tiga macam analogi yang bisa digunakan oleh guru yaitu analogi fantasi, analogi langsung, dan analogi pribadi.

Sementara itu, strategi pembelajaran IPS yang kedua adalah strategi sosiodrama. Strategi ini biasanya diterapkan saat pelajaran sejarah. Mengapa? Strategi sosiodrama mengharuskan guru dan siswa untuk mereka ulang peristiwa yang terjadi pada sejarah. Sehingga, para siswa mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang peristiwa tersebut. Mereka juga bisa mengambil makna dan nilai moral yang dimiliki dari suatu peristiwa bersejarah. Untuk bisa menjalankan strategi sosiodrama ada beberapa komponen yang harus dipenuhi yaitu penentuan tujuan pembelajaran, penentuan topik, penentuan peran, penentuan adegan, dan evaluasi peristiwa reka ulang.

Strategi pembelajaran IPS yang lain adalah strategi studi ekskursi perjalanan. Umumnya, strategi pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan program studi wisata. Tujuannya adalah para siswa bisa secara langsung mengamati fenomena atau tempat bersejarah serta mengumpulkan data dari sumber data secara langsung. Strategi pembelajaran ini juga berguna untuk meningkatkan keterampilan penelitian dan penerapan metodologi penelitian dari para siswa. Selain itu, dengan berkunjung langsung ke tempat sebenarnya, para siswa tidak akan merasa bosan dan lebih tertarik untuk mempelajari ilmu IPS. Mereka bisa belajar tentang aktivitas ekonomi, tempat bersejarah, maupun tempat terjadinya fenomena alam pada bidang geografi.

Strategi pembelajaran IPS yang terakhir adalah strategi inkuiri sosial. Strategi pembelajaran ini cocok diterapkan pada mapel sosiologi. Hal ini dikarenakan strategi inkuiri sosial mengharuskan para siswa untuk bisa mengumpulkan data dan menyelidiki secara langsung masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Setelah itu, para siswa diminta untuk bisa mengutarakan solusi terhadap masalah sosial tersebut. Hal ini dilakukan agar para siswa bisa bersosialisasi dalam lingkungan masyarakat secara langsung tidak hanya berdasarkan teori saja.

Materi Pembelajaran IPS di Sekolah

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, materi IPS dapat dibedakan menjadi beberapa mapel yaitu sosiologi, geografi, ekonomi, dan sejarah. Umumnya, materi IPS pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama masih tergabung dalam satu kesatuan mapel IPS saja atau mapel IPS terpadu. Walaupun semua materi IPS sudah terakomodasi dalam mapel IPS. Hal ini dilakukan karena materi IPS di SD masih dalam tahap dasar. Sementara itu, materi IPS di SMA mulai dibagi menjadi beberapa mata pelajaran yang lebih spesifik seperti yang disebutkan sebelumnya. Hal ini dikarenakan cakupan materi yang dibahas lebih luas dan terperinci. Sehingga, akan lebih baik jika materi IPS tersebut dipecah menjadi beberapa mapel secara spesifik.

Sementara itu, materi IPS yang dipelajari di jenjang pendidikan SMA/MA memiliki sistem yang berbeda dibandingkan dengan pembelajaran IPS di jenjang pendidikan lain. Hal ini dikarenakan program pembelajaran SMA/MA dibagi menjadi beberapa program spesialisasi yaitu kelas IPA, IPS, Bahasa, Agama, dll. Oleh karena itu, materi IPS yang dipelajari dalam setiap program tentu berbeda. Siswa dari program IPA, Bahasa, maupun Agama bisa mempelajari materi IPS sebagai salah satu materi peminatan. Akan tetapi, cakupan materinya lebih sempit dibandingkan dengan siswa di kelas IPS. Oleh karena itu, guru IPS di SMA/MA perlu menyesuaikan materi IPS yang diajarkan dengan kebutuhan dari para siswa.

Salah satu contohnya adalah materi ekonomi yang diberikan di kelas XII. Cakupan materinya adalah Akuntansi Sebagai Sistem Informasi, Konsep Persamaan Dasar Akuntansi, Materi – Konsep Persamaan Dasar Akuntansi, Penyusunan Siklus Akuntansi pada Perusahaan Jasa, Penutupan Siklus Akuntansi pada Perusahaan Jasa, Penyusunan Siklus Akuntansi pada Perusahaan Dagang, dan Penutupan Siklus Akuntansi pada Perusahaan Dagang. Sementara itu, materi pelajaran sosiologi di kelas XII adalah Perubahan Sosial, Modernisasi, dan Globalisasi. Materi pelajaran geografi di kelas XII adalah Konsep Wilayah dan Tata Ruang, Interaksi Keruangan Desa dan Kota, Pemanfaatan Peta, Penginderaan Jauh, dan SIG, serta Interaksi Negara Maju dan Negara Berkembang. Sementara itu, materi sejarah di kelas XII dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu sejarah Indonesia dan sejarah peminatan. Materi sejarah Indonesia mencakup Republik Indonesia Serikat, Indonesia Era Demokrasi Liberal, Perjuangan Melawan Ancaman Pemberontakan, Indonesia Era Demokrasi Terpimpin, Indonesia Era Orde Baru, dan Indonesia Era Orde Reformasi. Sedangkan materi sejarah peminatan meliputi Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Organisasi Mancanegara.

Contoh materi IPS yang lainnya adalah materi IPS untuk kelas IX SMP.  Materi yang dipelajari meliputi Interaksi Antara Negara Asia dan Negara Lainnya, Perubahan Sosial Budaya dan Globalisasi, Ketergantungan Antar Ruang dan Pengaruhnya Terhadap Kesejahteraan Masyarakat, dan Sejarah Indonesia dari Masa Kemerdekaan hingga Reformasi. Materi tersebut dibagi menjadi beberapa sub bab tertentu. Jika ditelisik, materi IPS terpadu sudah memuat materi tentang ekonomi, sosiologi, geografi, dan sejarah. Sehingga, para siswa tetap akan mempelajari ilmu IPS secara utuh.

Saat ini, materi IPS bisa diperoleh dengan mudah dari berbagai macam sumber pelajaran. Para siswa bisa mendapatkannya dari buku maupun internet. Beberapa buku IPS dari Kemendikbud juga bisa diunduh secara gratis sehingga memudahkan siswa untuk belajar IPS. Selain itu, beberapa website juga menyediakan materi IPS. Materi tersebut disampaikan dalam berbagai macam bentuk mulai dari artikel singkat, latihan soal, hingga video pembelajaran. Hal ini tentu memudahkan bagi para siswa yang ingin belajar IPS mandiri sebagai tambahan pelajaran dari sekolah. Salah satu website tersebut adalah ranahnetizen.com. Belajar mandiri akan memudahkan siswa untuk memahami dan mengimplementasikan materi dari mapel IPS.